Kuda renggong tumbuh dan berkembang di Kabupaten
Majalengka sejak tahun 1950-an. Adalah sebuah seni pertunjukan rakyat yang
bersifat helaran dan pada awalnya disiapkan melayani pesta sunat. Penampilannya
kemudian bukan hanya untuk pesta sunat,-namun dipersiapkan juga untuk acara
lain, seperti upacara hari besar, festival, menyambut tamu, dll.
Menurut penuturan salah seorang pelatih kuda
renggong di Desa Heuleut, Leuwimunding, melatih kuda untuk bisa menari sesuai
irama kendang bukan hal yang mudah. Seperti halnya melatih hewan sirkus,
melatih kuda memerlukan kesabaran dan_cukup banyak memakan waktu. Kemampuan
menari sambil berjalan kemudian ditambah dengan kemampuan atraksi bermain
pencak silat. Adegan yang tampak adalah kuda berdiri tertumpu pada sepasang
kaki belakang, sedangkan pasangan kaki depan melakukan gerakan-gerakan silat.
Ini merupakan puncak pertunjukan kuda renggong, yang biasanya ditampilkan
setelah kuda renggong melakukan arak arakan keliling kampung ditunggangi anak
sunat. Dalam acara festival, selain keindahan pernak-pernik pakaian clan
gerakan tari, gerakan silat ini menjadi fokus penilaian utama.
Alat musik yang digunakan pada
awalnya adalah seperangkat waditra yang digunakan pada pencak silat namun
dilengkapi dengan seorang sinden. Penyajian musik pada kuda renggong menjadi
lebih atraktif dengan ditambahkannya alat musik modern – biasanya sebuah gitar
melodi elektrik – yang menampilkan lagu-lagu jogedan. Pada saat arak-arakan
pengantin sunat, masyarakat sekitar yang suka menari atau berjoged turut
memeriahkan suasana berjoged di depan kuda dengan maksud untuk menghibur pengantin
sunat. Pengantin sunat sendiri dinaikkan di atas Kuda dengan didandani pakaian
Gatotkaca sehingga tampak gagah, seperti seorang ksatria kecil sedang
menunggang kuda.
Di Majalengka perkembangan
kesenian kuda renggong berkembang pesat dan tersebar hampir di semua kecamatan.
Dengan tidak menafikan makna spiritual yang dikandungnya, kuda renggong di
Majalengka menjadi fenomena hiburan yang digemari oleh semua lapisan
mas.yarakat. Studio Radio Indraswara Majalengka bahkan membuat mementum yang
bagus, yakni dengan membuat jadwal festival Kuda Renggong setiap tahun sekali.
Pada saat festival inilah masyarakatmendapat kesempatan mengapresiasi kesenian
kuda renggong, sekaligus memahami makna yang dikandungnya. Arthur Nalan (2003)
menyebutkan bahwa “makna simbolis kuda renggong adalah makna spiritual, makna
interaksi makhluk Tuhan, bermakna spiritual, teatrikal dan makna universal.
Nama-nama kelompok kesenian kuda
renggong di Majalengka merujuk kepada nama atau julukan yang diberikan kepada
kuda yang menjadi ronggeng-nya. Misalnya Si Walet Group, karena nama kudanya
adalah.Si Walet, demikian pula halnya dengan nama-nama seperti Si Paser Group,
Si Kalong Group, dsb. Nama-nama ini juga tidak diberikan begitu saja, karena
pemberian nama juga harus mempertimbangkan wanda (bentuk tubuh), karakter, dan
tingkat keterampilan kuda. Misalnya Si Kalong Hideung, nama ini diberikan
karena kulit tubuh kuda dimaksud berwarna hitam dan bermata seperti kalong, Si
Paser karena keterampilan berlarinya yang cepat melesat seperti sebuah paser
(anak panah). Beberapa nama kuda di beberapa daerah ada yang sama, ini
disebabkan oleh penyebaran keturunan, balk pemilik kuda maupun kuda sendiri.
Atau bahkan karena pemilik kuda yang satu berguru kepada pemilik kuda yang
lain, sehingga – dengan komitmen seperlunya – memberikan nama yang sama kepada
kuda yang dimilikinya.
Hingga saat ini, tercatat ada 50
group kesenian kuda renggong di Majalengka. Indraswara penyelenggara festival
kuda renggong paling sedikit mengundang sedikitnya 15 group kuda renggong.
untuk tampil pada acara festival tahunan yang secara resmi dibuka oleh Bupati
Majalengka.
Sedangkan
group kuda renggong yang masih eksis saat ini beberapa di antaranya sebagaimana
disebut pada tebal di bawah ini.
sumber: http://www.majalengkakab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=78&Itemid=59
Tidak ada komentar:
Posting Komentar